Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Friday, April 15, 2016

Klub Solidaritas Suami Hilang [Cerpen Kompas]


Oleh : Intan Paramaditha


Berbaju hitam, semua orang termasuk dirimu duduk membentuk lingkaran. Kau mulai menghafal beberapa nama: Carmencita dari Meksiko, Soonyi dari Korea Selatan, dan Andy yang lahir di Boston.

Doña Manuela, perempuan Argentina tinggi gempal berumur enam puluh lima, adalah pendiri perkumpulan. Ia terus mendengarkan sambil mengelap bingkai foto, kotak musik, atau koleksi miniatur rumahnya. Kecuali dirimu, seluruh anggota bermukim di Los Angeles. Namun, di ruang tamu Doña Manuela, perbatasan mesti dilewati demi perjalanan ke belakang. Menelusuri ingatan dari Tijuana hingga Laut Cina Timur, Klub Solidaritas Suami Hilang adalah sebuah klub internasional.

Kau tak mengira kota dengan sistem transportasi umum yang buruk bisa mengantarmu ke sana. Namun, bukan pada Los Angeles kau berutang, melainkan sebuah toilet di kantor polisi.

Seorang polisi perempuan mencatat perihal kehilangan suamimu. Alisnya berkerut saat kau sebutkan beberapa ciri (62 tahun, kulit putih, gemuk, menderita asma). Matanya memindai halaman depan paspormu, seperti berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa usiamu belum genap tiga puluh, dan sesekali ia mencuri pandang ke arah syalmu yang cantik. Selayaknya pelayan masyarakat yang terpuji, ia menyelesaikan laporannya dan berkata hangat, ”Kami akan berusaha sebaik mungkin.”

Di toilet kau berpapasan dengan perempuan lain. Rambutnya kelabu, berpotongan bob. Usianya mungkin sekitar delapan puluh. Ia tersenyum ramah, lalu menegurmu dalam bahasa yang sedikit kaku, ”Dari Indonesia, ya?”

Setelah meninggalkan Malang di tahun 60-an, ia tak pernah pulang lagi. Bertahun-tahun ia tinggal di Den Haag sebelum pindah ke California.

Dengan jujur kau mengaku baru saja membuat laporan kehilangan suami. Di New York, kau dan suamimu merencanakan bulan madu. Kau terbang lebih dulu ke Los Angeles karena ia harus menghadiri konferensi di Eropa, tetapi setelah lewat tiga hari ia belum menyusulmu. Seluruh alat komunikasi tak berfungsi.

Ibu itu mengangguk, tampak bersiaga ketimbang bersimpati. Ia merogoh tas tangannya dan menyodorkan selembar kartu nama. Sementara ia mencuci tangan, kau mengamati nama aneh yang tertera di sana.

”Dulu saya aktif di perkumpulan. Siapa tahu berguna buat Anda. Bilang saja dengar dari saya, Yunita.”

”Bu Yunita datang kemari… juga karena kehilangan suami?”

”Oh, bukan! Saya kehilangan dompet,” ia menutup keran air. ”Sudah empat puluh tahun lebih suami saya mati.”

Ibu Yunita membolak-balikkan tangan keriputnya di bawah mesin pengering. Ucapan maafmu tertelan deru mesin. Ia sempat menengok cermin untuk merapikan rambut pendeknya.

”Yuk, saya duluan. Mudah-mudahan suami Anda ketemu.”

Klub Solidaritas Suami Hilang tak menemukan yang hilang, tetapi menghidupi kehilangan. Meski demikian, Doña Manuela selalu siap membagi kontaknya—polisi, detektif swasta, jaringan aktivis—serta membahas kiat-kiat berhadapan dengan aparat negara. Jangan sampai kita jadi korban dua kali, begitu prinsipnya. Ia aktif di beberapa kelompok yang menuntut keadilan untuk korban Perang Kotor di Argentina. Mertuanya adalah anggota Asosiasi Ibu Plaza de Mayo.

”Ada beberapa foto yang belum kuperlihatkan.”

Itu adalah suara serak-serak basah Carmencita. Ia membuka laptop Dell mungil berbungkus ungu, siap memamerkan sejumlah foto.

Carmencita dan suaminya pergi ke Paris tiga tahun lalu, tepatnya di musim semi 2005, untuk membuat foto-foto pra-pernikahan. Mereka menautkan gembok bertuliskan ”Carmencita & Pablo” pada jembatan cinta legendaris Pont des Arts. Seorang kawan fotografer mengabadikan Carmencita, dalam pelukan Pablo, dengan gaun putih yang pendek di depan tetapi menjuntai di belakang. Ia mirip bintang telenovela.

Pablo pamit ke supermarket Walmart di suatu sore tanpa pernah kembali. Sampai kini pakaiannya masih tersimpan rapi di lemari.

”Gembok itu akan di sana selamanya, seperti cinta kami.”

Di sebelah Carmencita, Andy Horowitz memutar bola matanya ke atas.

”Aih, romantis! Semoga tak ada orang gila mengamuk dan membakar jembatan, ya.”

”Jahat sekali!”

”Menurutku, menurutku lho,” Andy berucap manis, ”cuma orang bodoh yang menggantung gembok cinta.”

”Aku kenal pasangan pengarang dari Guadalajara yang melakukannya!” tukas Carmencita.

Andy tak percaya banyak hal, termasuk pernikahan, setidaknya sampai ia mengalami kecelakaan parah dan harus dioperasi. Karena Greg, pasangannya selama satu dekade, tidak dianggap keluarga sungguhan, Ibu Andy terbang dari Boston untuk menandatangani surat persetujuan. Setelah sembuh, Andy banyak berpikir tentang hukum. Jika ia koma berbulan-bulan, ia memilih disuntik mati. Ia ingin Greglah yang membuat keputusan medis terakhir untuknya. Tapi sebelum eutanasia memisahkan keduanya, Greg menghilang. Terakhir kali ia menelepon Andy saat hendak menyeberangi Selat Hekate yang rawan badai dan cuaca buruk.

Di Klub Solidaritas Suami Hilang, kita mengingat yang tak hadir lewat cerita berulang. Kita bisa berangkat dari titik mana pun, baik secara linear— dari awal pertemuan sampai hilangnya suami—maupun dengan alur mundur. Sebagian memilih teknik in medias res.

Perenungan tentang masa tua memicu keputusan Andy menikah di Toronto (di tahun 2006 ini belum dimungkinkan di California). Cerita Andy kemudian bergerak ke belakang, ke galeri seni tempat ia dan Greg bertemu. Ia seorang editor film, bekerja di ruang tertutup, sedangkan Greg seorang fotografer pencinta alam.

Ketika tiba kesempatanmu bicara, kau merunut kronologi kehilangan seperti di kantor polisi. Carmencita, terlihat lebih sendu darimu, bertanya, ”Apa yang paling kau ingat tentang suamimu?”

Kau menatap sekeliling sambil berusaha mengingat-ingat. Sedikit gugup, kau balas bertanya, ”Bisa kuceritakan lain kali?”

Rekan-rekanmu mengangguk meski tampak kebingungan. Lalu terdengar suara Soonyi, pelan dan ringkih, persis gerak-gerik tubuhnya. Wajahnya manis, meski tentu ia lebih tua dari Doña Manuela.

”Tidak apa-apa. Aku juga tak punya banyak kenangan tentang suamiku.”

Ada yang tercecer setelah Perang Korea usai dan Amerika menarik mundur tentaranya. Hal besar seperti perang kerap meninggalkan serpihan kecil, tak berguna dan jorok, seperti sifilis dan bayi.

Di umur 17, Soonyi melahirkan anak berkulit hitam dari seorang tentara yang ia sebut suami meski upacara pernikahan tak pernah ada.

”Laki-laki itu tak pernah menghubungiku. Bahkan alamatnya palsu,” kata Soonyi, masih bersuara pelan. ”Tapi tak ada ingatan yang lebih nyata dari Jihoon, putraku. Karena dia aku menjadi sundal. Karena dia tidak berbapak dan kulitnya hitam.”

Para peserta memilih diam. Entah bagaimana kau tahu inilah yang selalu terjadi. Sebagian cerita selalu menikam, tak pernah tumpul meski diulang-ulang.

Suara Doña Manuela memecah hening,

”Selanjutnya?”

Kau mulai paham bagaimana para anggota mengakrabi kehilangan. Ingatan menjadi kuil yang mesti dilap hingga berkilat, seperti tiap sudut bingkai foto yang dibersihkan Doña Manuela dengan saksama. Beberapa perempuan sibuk merajut. Carmencita memilih mengecat kuku. Soonyi selalu memasak bibimbap (yang menurutmu mirip nasi campur gado-gado) untuk dimakan bersama. Hanya Andy sang editor yang merasa tak butuh prakarya, sebab setiap hari ia sudah melakukannya: menggunting, memindahkan, dan merekat cerita.

Di hari-hari tertentu rajutan dibongkar paksa dan cat kuku luber di kulit.

Di hari macam itulah kau datang lebih awal dan berpapasan dengan Soonyi di pintu. Tampak kurang sehat, ia bergegas pulang. Tak lama kemudian kau temukan sesuatu di lantai kamar mandi. Seseorang telah meludah seenaknya.

”Kau melihatnya?” Doña Manuela menghampirimu. ”Maaf. Itu pasti Soonyi.”

”Dia sakit?”

”Jantungnya lemah, ya. Tapi soal meludah, sudah lama dia berhenti,” kata Doña Manuela. ”Dulu dia kecanduan. Dia melakukannya di tempat-tempat yang dijaga ketat, seperti kantor pemerintah dan perpustakaan kota.”

Kau tak tahu pasti apa rasanya punya anak haram berkulit hitam di Korea sesudah perang.

Soonyi bertekad kabur. Lewat sebuah perkawinan singkat, ia akhirnya menjejakkan kaki di Amerika pada tahun 1975. Sejak itulah ia kerap dilanda hasrat menggebu-gebu untuk meludahi fasilitas publik. Ia pernah ditangkap satpam, tapi kemudian dibebaskan karena dianggap sedang sakit. Lagi pula, wajahnya manis tanpa dosa.

Kau teringat mencicipi bibimbap. Setelah Soonyi meludah, mulutmu terasa jorok.

Saat membantu membersihkan kamar mandi, kau tak hanya mendengar lebih banyak tentang Soonyi, tetapi juga Doña Manuela, yang kehilangan suami semasa rezim militer di akhir 1970-an.

”Jelas dia sudah mati. Tapi dengan cara apa, aku tidak tahu,” ujarnya. ”Mungkin tak jauh beda dengan suami Yunita.”

Deru mesin pengering tangan di toilet kantor polisi kembali terngiang.

Yunita, kata Doña Manuela, tak pernah tahu apakah suaminya ditembak atau disembelih.

”Apakah suaminya mati di Jawa atau Bali, dia juga tak tahu pasti.”

Tak ada mesin, dan tenggorokanmu kering.

Di tempatku orang dihilangkan dengan beragam cara, lanjutnya. Ia bisa ditelanjangi dan dilempar ke sungai yang dingin, atau dipaksa terjun dari helikopter. Setiap hari kami memilih khayalan sendiri.

Di kamar mandi itu kau mengharapkan bising. Tapi kau hanya menemukan gelondongan tisu, bersih dan bisu, tak menyelamatkanmu.

”Anda pasti sangat mencintai suami Anda, Doña.”

”Apa itu penting?”

Ia bertanya apa kau mencintai suamimu. Kau tak menjawab.

”Yang jelas negara telah menzalimiku,” ia seperti bersabda. Kini suaranya lambat dan ganjil, ”Dalam kitab disebutkan: barang siapa menumpahkan darah manusia, oleh manusia darahnya akan tertumpah.”

Doña Manuela, kokoh dan teduh, terlihat seperti gunung api yang memampatkan murka lewat pekerjaan-pekerjaan kecil, telaten, sepele. Perihal kapan ia akan meletus, tak berani kau bayangkan.

Kau sudah tak datang lagi ke klub ketika Soonyi pergi. Kau terbang ke Los Angeles hanya untuk menghadiri pemakamannya. Untuk terakhir kali kau lihat, di gereja, jenazahnya cantik bagai peri dalam peti. Carmencita periasnya.

Kau ingat pernah merasa jijik dengan bibimbap, tetapi suatu hari di klub mengubah semuanya. Sejak itu, bibimbap yang dibawa Soonyi selalu habis. Bahkan ketika kesehatan Soonyi memburuk, Doña Manuela datang ke rumahnya hanya untuk membantunya memasak.

Hari itu Carmencita dan Andy bertengkar. ”Suami Hilang” perlu definisi ulang, kata Andy, sebab itu tak berlaku buat Carmencita. Ternyata suaminya tidak hilang, tapi kabur.

”Oh bangunlah, Carmencita. Kita semua tahu apa yang terjadi. Suamimu masih di LA, tinggal bersama pacar barunya!”

Mendengar ucapan sinis Andy, Carmencita menangis histeris. Doña Manuela menatap Andy tajam.

”Maaf,” Andy terlihat sedikit menyesal. ”Kupikir kita semua perlu ditampar oleh kenyataan.”

”Orang kemari bukan untuk ditampar,” tegas Doña Manuela.

Di saat itulah Soonyi, yang sebelumnya bungkam, membuka mulutnya.

”Andy benar. Kita butuh tamparan,” katanya. ”Suamiku… aku sudah bertemu dengannya, tahun 1980.”

Semua mata tertuju pada perempuan mungil itu. Doña Manuela mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Bahunya yang lebar turun naik. Fakta baru yang tiba-tiba muncul—setahun setelah Soonyi bergabung di klub—membuatnya seperti binatang yang dikhianati.

”Sungguh menarik, Soonyi,” suara Doña Manuela sedingin es. ”Setelah sekian lama, kami baru tahu bahwa suamimu tidak hilang.”

Soonyi tertunduk lama. Kemudian kau dengar suaranya begitu tenang,

”Dia tidak hilang. Aku menghilangkannya.”

Hari itu kita semua diingatkan: seorang pencerita adalah juga seorang penghapus.

Di tahun 1953, ayah bayi Soonyi kembali dari Korea dan menikahi perempuan Amerika. Ketika Soonyi akhirnya menemukan lelaki itu, ia telah ditinggal mati istrinya. Ia bersumpah tak tahu kalau punya anak di Korea, lalu mengajak Soonyi menikah dan melupakan penderitaan yang sudah lewat.

Dua hari setelah pernikahan mereka, Soonyi memasukkan sebuah koper ke dalam bagasi mobilnya. Ia menyetir jauh sekali.

”Aku merindukannya. Kadang, setelah puluhan tahun, aku merasa ia masih berbaring di sampingku.”

Soonyi menyeka matanya yang basah.

”Barangkali yang kusimpan di dalam koper itu,” ia berhenti sesaat. ”Bukan dia.”

Setelah itu: sunyi.

Doña Manuela beranjak dan mengedarkan bibimbap.

Berbaju hitam, kau dan kawan-kawanmu pergi ke restoran Korea seusai pemakaman. Suamimu belum ditemukan. Barangkali kau tidak mencintainya, tapi itu tak penting. Hilang dan kehilangan adalah lekuk yang lain, pelik sekaligus licin. Kadang keduanya terhubungkan dengan cara yang ajaib, sebagaimana yang kau pelajari dari Doña Manuela, Soonyi, dan Klub Solidaritas Suami Hilang.

*Ilustrasi Karya : Bambang Heras
*Terbit di Harian Kompas pada 31 Maret 2013
*Pemenang Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2013

Wednesday, April 13, 2016

Ulat Bulu & Syekh Daun Jati


Oleh Agus Noor

Ada kisah yang selalu diingat dengan gemetar oleh orang-orang kampung Jatilawang setiap menjelang Ramadhan. Bukan kisah tentang nabi-nabi. Tapi wabah ulat bulu. Malapetaka bertahun lalu yang terjadi setelah pembantaian orang-orang yang dituduh komunis di kampung itu. Mereka mati dengan cara paling mengerikan. Ditangkap dan diseret ke pinggiran hutan jati, sebagian ditembak, digorok, atau dihajar kepalanya hingga remuk dengan batang kayu jati. Tak ada anak yang tak menjadi yatim setelah pembantaian itu. Kekejian memang tak pernah bisa dilupakan.

Angin kering merayap pelan dari arah hutan jati yang mengelilingi kampung, mengembuskan bau ganjil yang sebelumnya tak terkenali. Seperti bau kayu yang membusuk dalam tanah, tetapi bercampur amis darah yang memualkan perut dan membuat gatal hidung. Orang-orang mengingatnya sebagai musim yang ganjil. Mestinya sudah penghujan. Tapi kekeringan justru mulai merontokkan daun jati. Dan sekitar seminggu sebelum bulan puasa di tahun 1965 setelah pembantai itu, penduduk yang masih dicekam kecemasan semakin dirayapi kengerian ketika ribuan ulat bulu menyerbu kampung. Ulat bulu hitam hampir sebesar jempol orang dewasa tak hanya terlihat di pohon kelapa, pisang, atau pepaya di pekarangan, tetapi dengan cepat menempel di tembok-tembok rumah. Di pintu dan jendela. Bahkan menyerbu ke dalam rumah. Menempel di kursi, merayap di meja makan, di kolong ranjang dan bantal. Udara terasa kental dengan bulu-bulu ulat yang rontok. Membuat mereka bersin-bersin dan kulit seketika menjadi gatal. Semakin digaruk, rasa gatal itu justru semakin menjalar ke seluruh tubuh. Kulit penuh bentol-bentol merah memar. Mereka mencoba menghilangkannya dengan melulurkan air garam atau minyak kelapa ke tubuh, tetapi rasa gatal yang makin perih membuat kulit tambah membengkak. Bahkan rasa gatal itu terasa kian mencakar ke dalam jantung. Seolah jantung mereka sudah penuh ulat bulu. Bagaimana caranya menggaruk jantung yang gatal?

Tak pernah terjadi wabah ulat bulu sebelumnya. Tak bisa menepiskan bayangan buruk, para penduduk kemudian mengaitkan munculnya ribuan ulat bulu itu dengan orang-orang yang mati terbantai. Apalagi ketika Dalmiji, orang dekat tentara yang menjadi algojo pembantaian di kampung itu, ditemukan mati mengenaskan. Kulitnya penuh bintik hitam, bengkak, dan mata terbelalak. Dari kelopak matanya keluar puluhan ulat bulu hitam. Beberapa orang kemudian ditemukan mati dengan kondisi yang sama, setelah sebelumnya meraung-raung kesakitan berguling-guling di tanah sembari terus menggaruki seluruh badan, seakan ada ulat bulu merayap di bawah kulitnya.

Ulat bulu ini kutukan, kata orang-orang. Ini seperti pageblug. Orang yang diserang rasa gatal pada pagi hari, mati malam hari. Semua pepohonan dengan cepat meranggas. Ribuan ulat bulu itu memakan seluruh daun yang ada. Orang-orang mengumpulkan belarak yang tersisa, dan membakar ribuan ulat bulu dengan daun kelapa kering itu. Tapi ulat-ulat itu tak mati. Begitu dibakar, ulat-ulat itu justru seperti bertambah banyak. Setiap seekor ulat terbakar, dari abunya justru bermunculan banyak sekali ulat.

Ulat-ulat ini seperti lahir dari kebencian, seseorang berkata. Kebencian tak pernah bisa mati oleh api. Dan penduduk Jatilawang hanya gemetar pasrah ketika menyaksikan kawanan ulat bulu itu semakin menggila jumlahnya. Beras yang disimpan dalam karung, penuh ulat bulu. Sayur di meja makan dirayapi ulat bulu. Perigi di pinggir kampung, tempat mereka mandi, penuh ulat bulu berkerugetan seperti lintah yang mengambang. Air yang mereka minum menjadi gatal. Nyaris seluruh tembok rumah tertutup ulat bulu. Orang-orang menatap tembok rumah mereka seolah terbuat dari lempung lembek dan berdenyut, ketika ulat-ulat itu bergerak pelan. Di tanah kering berdebu karena kemarau yang salah musim, gerombolan ulat menutupi seluruh jalanan kampung, hingga penduduk melangkah dengan takut dan jijik karena pasti menginjak ulat-ulat itu. Dari tubuh ulat yang mati terinjak keluar cairan hitam kental berbau menyerupai nanah. Di malam hari, ketika cahaya bulan menimpa perkampungan, bulu-bulu hitam ulat itu terlihat berkilatan.

Kampung seperti diselubungi cairan hitam karena seluruhnya tertutup ulat bulu. Seluruh batang pohon tertutup ulat bulu hitam hingga ke ujung cabang-cabangnya. Atap-atap rumah dipenuhi ulat bulu. Segalanya menjadi tampak menghitam. Juga hutan jati yang mengelilingi kampung itu. Tiap batang pohon jati tertutup ulat bulu. Hutan jati itu menjadi hutan hitam yang begitu mengerikan. Tak ada pemandangan yang begitu hitam melebihi hitamnya hutan jati yang telah menjadi begitu mengerikan oleh jutaan ulat bulu. Seakan-akan di tengah-tengah kehitaman hutan jati itu hidup arwah-arwah penasaran yang haus mengisap darah siapa pun yang berani memasukinya.

Ketika ketakutan sudah menjadi lebih mengerikan dari datangnya maut, beberapa penduduk Jatilawang yang sedang memasrahkan nasibnya dengan berdoa di makam keramat yang terletak di perbukitan batas dengan hutan jati, melihat ada bayangan seseorang berjalan—seolah-olah melayang—memasuki hutan jati yang menjadi semakin terlihat mengerikan di malam hari. Hanya orang yang mau bunuh diri yang berani memasuki hutan jati hitam.
Malam itu, di bawah cahaya bulan yang begitu murung dan pucat seperti mata yang putus asa, samar-samar terlihat seseorang berdiri di atas selembar daun jati yang melayang, seolah selembar daun jati itu karpet terbang. Dengan gerakan ringan, orang itu menebahkan selempang sorbannya ke arah pepohonan jati, dan seketika gerombolan ulat bulu hitam langsung lenyap. Sosok yang berdiri di atas selembar daun jati itu terus melayang dan melesat menggerakkan tangannya, seperti menghantam dan menampar kekosongan udara, dan kadang seperti menangkis sebuah serangan kasatmata yang menghantam ke arahnya. Selempang sorban orang itu terus menyambar menghantam ribuan ulat bulu hitam yang melesat menyerang dan mengepungnya.

Saat itu, orang-orang yang menyaksikan percaya, bahwa tengah terjadi pertempuran mahadahsyat antara orang bersorban itu dengan kekuatan yang tak bisa dilihat, tapi bisa mereka rasakan dari embusan angin yang tiba-tiba menjadi menggemuruh menggetarkan pohon-pohon jati. Suara batang-batang pohon jati yang bergemeretak terdengar seperti lolong panjang kemarahan penuh kebencian. Berkali-kali terdengar gemuruh meledak di udara. Makin lama mereka hanya bisa melihat kelebat bayangan yang begitu cepat, menjelma pusaran beliung yang menerbangkan semua ulat bulu itu ke udara, dan lenyap.

Kesunyian mengental menjadi ketakutan. Hutan jati telah bersih dari ulat bulu, tapi terasa ada yang tetap belum bisa dibersihkan. Pertempuran belum selesai. Ini bukan pertarungan yang bisa dilihat dengan mata. Orang bersorban itu masih berdiri di atas selembar daun jati yang mengapung tenang di udara, menatap ke satu pohon jati, di mana terlihat seekor bulu menggelantung di ujung ranting. Cahaya bulan membuat ulat bulu di ranting itu terlihat seperti mata hitam, yang menatap tajam ke arah orang bersorban. Keduanya diam saling pandang. Nyaris berjam-jam tak bergerak. Mereka seperti berada dalam kekosongan yang membuat setiap gerakan sekecil apa pun menjadi tak berguna.

Sayup-sayup, orang-orang hanya mendengar pecakapan antara keduanya. Ulat bulu dan orang bersorban itu.
”Siapakah kamu?”
”Saya bukanlah apa yang Kisanak lihat. Sekiranya Kisanak bisa melihat apa yang tidak terlihat, maka Kisanak tahu siapa saya.”
”Tak ada siapa pun yang tahu, kecuali diberi tahu apa yang sepatutnya ia ketahui. Apa yang kau inginkan?”
”Hanya mereka yang terikat dunia yang memiliki keinginan.”
”Kalau begitu, hentikan kemarahanmu.”
”Saya tak lagi memiliki kemarahan, Kisanak….”
”Wabah ini hanya menyengsarakan semua orang.”
”Apalah arti kesengsaraan bagi orang yang mengharapkan keadilan, Kisanak. Mereka sendiri yang membuat wabah itu.”

”Allah Mahapengampun. Maka mulialah orang yang memaafkan….”
”Memaafkan bukan berarti meniadakan kesalahan. Keadilan hanya mungkin bila kesalahan tidak hanya dimaafkan.”
”Kita tak berhak menghakimi kesalahan orang.”
”Sampaikan itu pada orang-orang yang melakukan pembantaian, Kisanak.”
”Tapi tidak semua orang mesti menanggung kesalahan.”
”Diam dan membiarkan terjadinya kejahatan adalah kejahatan orang-orang yang lemah iman.”
”Gusti Allah ora sare. Tuhan tidak tidur. Saat ini, berilah kesempatan orang-orang itu berpuasa dengan tenang.”
”Apakah mereka juga berpuasa dari kebencian?”

Lalu keheningan yang panjang dan bagai tiada akan pernah berakhir menaungi hutan jati itu. Ulat bulu itu masih menggelantung di ranting. Orang bersorban itu terus berdiri di atas selembar daun jati. Tak ada suara apa pun yang terdengar. Percakapan keduanya seperti hanya terjadi dalam batin masing-masing. Ini memang bukan perkelahian raga, tapi pertempuran batin. Pertarungan dalam keheningan. Seakan menguji ketangguhan batin masing-masing. Lalu terdengar suara gemerak dari ujung ranting. Tak terlihat lagi ulat bulu itu. Hanya ada kepompong yang tergelantung. Kemudian, perlahan kepompong itu merekah, dan keluar seekor kupu-kupu yang langsung terbang di bawah temaram cahaya bulan yang bagai tergetar oleh kepakan sayap kupu-kupu itu. Tak ada lagi orang bersorban. Selembar daun jati itu terlihat melayang jatuh ke tanah.
Orang-orang tak pernah tahu siapa gerangan orang bersorban itu. Mereka kemudian menyebutnya sebagai Syekh Daun Jati.

Ayah menceritakan kembali kisah itu pada saya dengan suara serak dan patah-patah. Ia terbaring sakit di usianya yang melewati 87 tahun. Ia menceritakan kisah itu seolah ada ketakutan yang terus disembunyikan. Tubuh ayah keriput dan kering, dan hanya bisa berbaring di ranjang. Kadang tengah malam ayah mengigau dengan suara penuh kecemasan, ”Ulat bulu… ulat bulu…. Bakar ulat bulu itu! Bakar!”
Sering saya melihat matanya memandang jauh dengan tatapan kosong.
Saya tahu, ada bagian yang tak pernah ayah ceritakan pada saya, yang justru saya dengar dari kasak-kusuk para tetangga. Ayah bukanlah sekadar orang yang selamat dari pembantaian. Tapi ia adalah orang yang bersama Dalmiji ikut membantai orang-orang di kampung Jatilawang itu.

Manado-Yogyakarta, 2013

Ilustrasi Karya : Ahdiyat Nur Hartarta
Terbit di Harian Kompas pada 28 Juli 2013

Monday, April 11, 2016

Disudut Rindu : Sajak Subuh Hari

















aku terbelenggu dalam angan

terbungkus sekucup hati yang berlumut
jiwaku menggigil bagai sehelai daun 
lebab disiram hening nan bening

Sunday, April 10, 2016

Eyang [Cerpen Kompas]



Oleh : Putu Wijaya

Dan Lebaran pun datang lagi. Persoalannya belum bergerak. Harga kebutuhan pokok naik. Masyarakat panik. Heboh mudik. Korban jiwa di jalanan bikin galau dan arus balik dapat dipastikan akan tetap kacau.
Aku sendiri punya persoalan buntu, yang tak bisa dipecahkan. Walau sudah setengah mati banting tulang, hasilnya hanya cukup untuk bayar uang pangkal sekolah anak-anak.

Sempat ada cucunguk yang menawarkan bagaimana mendapat SKM, dan KGS—kartu yang bisa menolong mengurangi beban. Tapi apa daya hati kecil menolak. Akhirnya kesombongan itu terkumpul membuat bangkrut di puncak Ramadhan.
Sementara, orang suka-ria jor-joran merayakan Hari Kemenangan, kami sekeluarga teriris kesunyian. Untungnya tak ada anak-anak yang ngomel. Mungkin ibunya sudah berhasil mencuci otak mereka. Paling tidak untuk menyakiti hati bapaknya yang sudah keok.
Namun penderitaanku tetap tidak berkurang. Walau tidur berhimpitan di dipan kecil, dengan ibunya anak-anak, sudah sebulan aku tanpa keindahan—sesuatu yang selalu aku bangga-banggakan sebagai benteng milikku yang terakhir.
Tetapi menjelang malam takbiran. Hummer 3 milyar milik Bos berhenti depan rumah. Aku meloncat bagai chipansee menghampiri. Begitu kaca jendela menguak memuntahkan wajahnya yang segar-bugar, aku sudah menyapa:

Kamboja di Atas Nisan [Cerpen Komas]




Oleh Herman RN

Tubuhnya gemetar. Perlahan tangan perempuan itu bergerak, menyusuri lekuk-lekuk batu tanah gundukan di hadapannya. Tangannya yang sebelah lagi meremas-remas tanah. Badannya kian bergetar hebat tatkala ia berusaha menahan air yang nyaris melabrak kelopak matanya.

”Ibu, apa karena kita perempuan?” lirihnya.

Gadis itu menghela napas. Kamboja, demikian namanya. Ia anak tunggal. ”Ibu, kau sudah melahirkanku dalam keadaan susah payah. Saat itu kita harus mengungsi karena kampung kita didatangi kelompok bersenjata. Orang-orang kampung kita pun diklaim sebagai pemberontak. Ibu lari terbirit-birit sambil membawaku dalam perut ibu. Begitu cerita yang kudengar dari Nek Mah, bidan kampung kita,” ucapnya sambil menahan tangis.

Friday, April 8, 2016

Matinya seorang demonstran [Cerpen Kompas]



Oleh Agus Noor

PAHLAWAN hanyalah pecundang yang beruntung. Ratih selalu tak bisa melupakan kata-kata itu setiap kali melewati jalan ini. Telah banyak yang berubah. Tak ada lagi deretan kios koran, warung gado-gado, dan penjual bensin eceran di pojokan. Bangunan kuno asrama mahasiswa yang dulu berada di sisi kanan telah menjadi ruko bergaya modern. Waktu mengubah gedung-gedung, tapi tidak mampu mengubah kenangannya.

Ratih tersenyum membaca nama jalan itu. Teringat apa yang dikatakan Eka. ”Banyak orang ingin jadi pahlawan, agar namanya dijadikan nama jalan. Mungkin, itulah satu-satunya keberuntungan menjadi pahlawan di negara ini.” Ada sinisme dalam kata-katanya. Tapi itulah, yang ketika pertama kali bertemu dalam satu diskusi, membuatnya suka pada Eka. Dia selalu menarik perhatian dengan pernyataan-pernyataan yang disertai kelakar. ”Militerisme pasti mati di Republik ini. Dan aku adalah orang sipil pertama yang akan menjadi Panglima ABRI. Tak hanya dapat Bintang Lima. Tapi Bintang Tujuh. Lumayan, bisa buat obat sakit kepala…” Saat itu Presiden Soeharto memang baru mendapat gelar Jenderal Besar Bintang Lima. Dan Bintang Tujuh adalah merek puyer obat sakit kepala.

Penjula koran satu lengan [Cerpen Kompas]


Oleh Arswendo Atmowiloto


Lelaki penjual koran dengan satu lengan sudah menceritakan semua. Sehingga tak ada yang perlu menanyakan siapa namanya. Atau alamatnya, karena dia bisa dilihat di perempatan jalan, saat lampu merah.

Sebenarnya bukan perempatan jalan dalam arti sebenarnya. Karena jalanan itu tidak lurus, sedikit melengkung, menikung, sehingga lampu merah atau hijau bisa membuat bingung untuk pengendara dari arah mana. Juga tak ada yang bertanya kenapa tangannya buntung. Wajahnya tidak murung. Malah mengesankan beruntung memperoleh sinar matahari dari masih sangat pagi hingga lewat tengah hari. Yang tidak membuatnya lebih hitam, dan dikenali karena bau tubuhnya yang diteruskan angin yang lelah, yang kalah oleh asap apa saja.

Wanita dan Semut-semut di Kepalanya [Cerpen Kompas]




Oleh Anggun Prameswari

Sungguh, tidak ada yang paham rumitnya isi kepala wanita itu. Termasuk sang suami yang mengencaninya selama enam tahun, lalu menikahinya selama enam tahun pula. Konon, pria itu tak kuat lagi menghadapi pikiran istrinya yang selalu rumit. Ia angkat kaki setelah ribut besar dan berkata lantang sekali sampai sepenjuru gang mendengarnya, ”Otakmu yang rumit itu, suatu hari akan habis dimakan semut-semut.”

Para tetangga pun mulai bertaruh, apakah wanita itu akan merutuki nasibnya, atau kalap mencari suaminya ke sepenjuru kota; jika perlu mengetuk tiap pintu, atau mulai bertingkah tak waras. Namun, ia tetap melanjutkan hidup seperti tak terjadi apa-apa. Ia berangkat sebelum matahari terbit dan pulang sebelum senja; bekerja sebagai pustakawati di universitas swasta. Setiba di rumah, ia menyeduh teh serai lalu duduk di beranda untuk membaca buku. Tepat jam sembilan malam, ia akan masuk, mengunci pintu, dan mematikan lampu-lampu. Di hari Minggu, ia pergi ke pasar membeli bahan makanan layaknya istri pada umumnya. Lelah menerka, akhirnya mereka pun berhenti bertaruh.

Friday, April 1, 2016

Sepasang Mata Malikat [Cerpen Kompas]



LELAKI itu berdiri di dekat jendela. Temaram lampu kamar, membingkai bayangannya seperti setengah memanjang. Sesaat, aku hanya menangkap nuansa kesedihan di wajahnya. Wajah yang menyiratkan selaksa kepucatan yang membentang seperti iring-iringan awan melingkupi langit. Dia lebih banyak diam, mendengarkan dengan syahdu suara seseorang di seberang. Aku tahu, dia sedang mengangkat telepon istrinya. Tetapi, aku tak mendengar dengan jelas: suaranya pelan setengah berbisik, seperti dengung serangga. Sesekali, ia mengangguk-angguk.
Aku masih meringkuk dibalut selimut. Tapi tiba-tiba, kulihat segumpal warna serupa sisa badai yang menggumpal di sudut matanya. Mata yang membuatku bergidik menatapnya lebih lama. Tak sampai semenit, dia mematikan handphone, kemudian berjalan ke arahku.
”Aku harus pulang,” suaranya datar tidak terlalu mengejutkanku. Seperti hari-hari yang lain, dia tidak selalu mengungkapkan satu alasan pun sebelum pergi dari rumahku.
”Apakah istrimu tahu kalau malam ini kau di rumahku?”

Saturday, March 26, 2016

Pengalaman Baru dalam Berhubungan Intim




Sejak itu, setelah sembuh, gairahku untuk bersetubuh malah jadi menggebu gebu, mungkin karena dalam rangka penyembuhan tersebut aku harus mau menuruti semua persyaratan yang diajukan oleh Ki Alugoro, antara lain diurut dengan semacam obat dalam keadaan telanjang bulat dan disetubuhi olehnya (waktu itu disetujui dan malah disaksikan oleh suamiku).
Akupun setuju asal aku dapat sembuh dari frigiditasku. Dan mungkin karena kontol Ki Alugoro memang benar benar besar, lagi pula dia pandai sekali mencumbu den membangkitkan gairahku, ditambah dengan ramuan ramuan yang diberikan olehnya, maka sekarang aku benar benar sembuh dari frigiditasku, dan menjadi wanita dengan gairah sex yang lumayan tinggi.
Hanya saja, karena ukuran kontol suamiku jauh lebih kecil dari kontol Ki Alugoro, maka dengan sendirinya suamiku tidak pernah bisa memuaskanku dalam bersetubuh. Apakah aku harus datang lagi ke tempat Ki Alugoro dengan pura pura belum sembuh ? (padahal supaya aku disetubuhi lagi olehnya).

Jack Dan bidadari [Cerpen Kompas]



SEMALAM bidadari itu meninggalkan rumah saya. Dia menendang kursi sebelum membuka pintu depan. Di luar angin kencang sekali. Embusan angin bercampur kemarahan membuat pintu terbanting dengan keras. Suara pintu itu terasa seperti tamparan di wajah saya.
Musim dingin sudah datang. Tapi di kota ini tidak ada salju. Di Eropa, sungai dan laut menjelma daratan es. Puluhan orang mati kedinginan. Kereta membeku. Bandara membeku. Dua hari lalu televisi menyiarkan Pangeran Belanda, Johan Frisco, tertimbun longsoran salju waktu main ski di Austria. Dia masih koma.
Saya dan Bidadari sering bertengkar, di musim apa pun, tentang apa pun. Dia sering menampar saya, tapi saya tidak pernah membalas tamparannya. Sebenarnya saya ingin membalas. Tapi yang terjadi saya hanya bertahan, tidak melawan.

Perempuan Balian [Cerpen Kompas]



Sebelum peristiwa malam itu yang akan kuceritakan nanti, Idang dikenal sebagai perempuan kurang waras. Kerap mengamuk kesurupan, dan meracau menceritakan tentang mimpi-mimpinya yang aneh. Kepada orang-orang ia sering mengatakan, ”Ada ular-ular besar menyusup dalam mimpiku. Ular itu bukan mimpi, tapi ular yang menyusup dalam mimpiku. Dalam mimpi juga aku sering bertemu Ayah.”
Idang memang tak seperti kebanyakan perempuan lainnya yang hidup di pegunungan Meratus. Ia suka memanjat pohon, hal yang hanya pantas dan perlu kekuatan seperti dimiliki anak laki-laki. Ia juga kerap melakukan perjalanan sendiri ke hutan-hutan terdalam, hutan-hutan terlarang.
”Aku banyak menemukan makhluk-makhluk aneh di sana. Mereka bersahabat,” ceritanya kepada teman-teman sebaya, yang karena cerita semacam itu pula menyebabkan ia perlahan-lahan dijauhi teman-temannya. Namun ia mengaku tak pernah merasa kesepian. ”Teman-temanku di dunia lain jauh lebih banyak,” seseorang bercerita kepadaku menirukan ucapannya.
Tabiat ini kemudian dikait-kaitkan orang dengan almarhum ayahnya yang seorang balian, seorang dukun kesohor. Ayahnya dikenal sebagai panggalung, dukun sakti yang karena karismanya sanggup memanggil, mengikat, dan mendatangkan orang-orang dari kampung-kampung jauh. Ayahnya meninggal kala ia usia 12 tahun. Ibunya lebih dulu tiada, tak tertolong saat melahirkannya. Entah dari mana mulanya, kenyataan itu membuat Idang dianggap sebagai pembawa kemalangan dalam hidup.
Dengan hidup hanya ditemani nenek dari ibunya, Idang tumbuh menjadi perempuan pendiam, penyendiri. Dan bila pun ia bicara dan bercerita kepada anak-anak sebayanya, maka itu adalah cerita tentang mimpi-mimpi, tak jauh dari cerita tentang ular dan ayahnya.
***

Tukang Pijat Keliling [Cerpen Kompas]



Sebenarnya tidak ada keistimewaan khusus mengenai keahlian Darko dalam memijat. Standar tukang pijat pada layaknya. Namun, keramahannya yang mengalir menambah daya pikat tersendiri. Kami menemukan ketenangan di wajahnya yang membuat kami senantiasa merasa dekat. Mungkin oleh sebab itu kami terus membicarakannya.
Entah darimana asalnya, tiada seorang warga pun yang tahu. Tiba-tiba saja datang ke kampung kami dengan pakaian tampak lusuh. Kami sempat menganggap dia adalah pengemis yang diutus kitab suci. Dia bertubuh jangkung tetapi terkesan membungkuk, barangkali karena usia. Peci melingkar di kepala. Jenggot lebat mengitari wajah. Tanpa mengenakan kacamata, membuat matanya yang hampa terlihat lebih suram, dia menawarkan pijatan dari rumah ke rumah. Kami melihat mata yang bagai selalu ingin memejam, hanya selapis putih yang terlihat.

Kabut Ibu [Cerpen Kompas]



Dari kamar ibu yang tertutup melata kabut. Kabut itu berjelanak dari celah bawah pintu. Merangkak memenuhi ruang tengah, ruang tamu, dapur, kamar mandi, hingga merebak ke teras depan.
Awalnya, orang-orang mengira bahwa rumah kami tengah sesak dilalap api. Tapi kian waktu mereka kian bosan membicarakannya, karena mereka tak pernah melihat api sepercik pun menjilati rumah kami. Yang mereka lihat hanya asap tebal yang bergulung-gulung. Kabut. Pada akhirnya, mereka hanya akan saling berbisik, ”Begitulah rumah pengikut setan, rumah tanpa Tuhan, rumah itu pasti sudah dikutuk.”
***

Hening Di Ujung Senja [Cerpen Kompas]



”Sabarlah, tunggu sampai senja selesai. Dan kau boleh tak mencintaiku lagi setelah ini.”
Serayu, seindah apakah senja yang kau bilang mengendap perlahan-lahan di permukaan sungai sehingga tampak air yang hijau itu berangsur-angsur tercampuri warna merah kekuningan dan memantulkan cahaya matahari bundar lalu koyak karena aliran yang menabrak batuan besar dasar sungai? O Serayu, sesedih apakah perasaan seorang wanita yang melihat senja itu dari balik jendela kereta ketika melintas di jembatan panjang sebelum stasiun Kebasen?
Sepanjang angin akan berembus, selalu ada cerita tentang wanita kesepian, senja yang menunggunya dalam waktu yang serba sebentar, lalu keheningan pun terjadi meski sesungguhnya gemuruh kereta ketika melintasi jembatan itu bisa terdengar hingga ke batas langit, atau ke dasar sungai.
”Aku melihat senja, lalu memikirkanmu.” Ucap seorang wanita pada kekasihnya. Di sore yang cerah, di tepi jembatan kereta. Keduanya duduk menjuntaikan kaki ke bawah, menikmati embusan angin dan melihat kendaraan berlalu-lalang di jalan berkelok ke arah kota Purwokerto.

Tangan Tangan Buntung [Cerpen Kompas]



Tidak mungkin sebuah negara dipimpin oleh orang gila, tidak mungkin pula sebuah negara sama-sekali tidak mempunyai pemimpin.
Selama beberapa hari terakhir, sementara itu, semua gerakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri mendesak, agar Nirdawat segera disyahkan sebagai presiden baru. Karena Nirdawat tidak bersedia, maka akhirnya, pada suatu hari yang cerah, ketika suhu udara sejuk dan langit kebetulan sedang biru tanpa ditutupi oleh awan, ribuan rakyat mengelilingi rumah Nirdawat, dan berteriak-teriak dengan nada memohon, agar untuk kepentingan bangsa dan negara, Nirdawat bersedia menjadi presiden.
Akhirnya beberapa di antara mereka masuk ke dalam rumah Nirdawat, lalu dengan sikap hormat mereka memanggul Nirdawat beramai-ramai menuju ke Gedung M.P.R. Sementara itu, teriakan-teriakan ”Hidup Presiden Nirdawat,” terus-menerus berkumandang dengan nada penuh semangat, namun sangat syahdu.

Dua Wajah Ibu [Cerpen Kompas]



Perempuan tua itu mendongakkan wajah begitu mendengar desingan tajam di atas ubun-ubunnya. Di langit petang yang temaram, ia melihat lampu kuning, hijau, dan merah mengerjap-ngerjap pada ujung-ujung sayap pesawat terbang.
Deru burung besi itu kian nyaring begitu melewati tempatnya berjongkok. Ia menghentikan gerakan tangannya. Menggiring burung itu lenyap dari mata lamurnya. Lalu, tangannya kembali menggumuli cucian pakaian yang tak kunjung habis itu. Beberapa detik sekali, tangan keriputnya berhenti, lalu ia menampari pipi dan kaki. Nyamuk di belantara beton ternyata lebih ganas ketimbang nyamuk-nyamuk rimba yang saban pagi menyetubuhi kulitnya saat menyadap karet nun jauh di pedalaman Sumatera-Selatan sana: Tanah Abang.
Ia menarik napas, melegakan dada ringkihnya yang terasa kian menyempit. Kicauan televisi tetangga menenggelamkan helaan napasnya. Suara musik, iklan, dan segala hal. Perempuan itu kembali menghela napas. Lalu, bangkit dari jongkoknya, menekan tuas sumur pompa. Irama air mengalir dalam ritme yang kacau. Kadang besar, kadang kecil, seiring tenaganya yang timbul-tenggelam. Air keruh memenuhi bak plastik, menindih-nindih pakaian yang bergelut busa deterjen. Bau karet tercium menyengat begitu air itu jatuh seperti terjun.

Seragam [Cerpen Kompas]



Lelaki jangkung berwajah terang yang membukakan pintu terlihat takjub begitu mengenali saya. Pastinya dia sama sekali tidak menyangka akan kedatangan saya yang tiba-tiba.
Ketika kemudian dengan keramahan yang tidak dibuat-buat dipersilakannya saya untuk masuk, tanpa ragu-ragu saya memilih langsung menuju amben di seberang ruangan. Nikmat rasanya duduk di atas balai-balai bambu beralas tikar pandan itu. Dia pun lalu turut duduk, tapi pandangannya justru diarahkan ke luar jendela, pada pohon-pohon cengkeh yang berderet seperti barisan murid kelas kami dahulu saat mengikuti upacara bendera tiap Isnin. Saya paham, kejutan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata. Dia butuh untuk menetralisirnya sebentar.
Dia adalah sahabat masa kecil terbaik saya. Hampir 25 tahun lalu kami berpisah karena keluarga saya harus boyongan ke kota tempat kerja Ayah yang baru di luar pulau hingga kembali beberapa tahun kemudian untuk menetap di kota kabupaten. Itu saya ceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah menyambanginya sejak itu.
”Jadi, apa yang membawamu kemari?”
”Kenangan.”